





Sumber: http://hermawayne.blogspot.com/
Ucup tidak segera bangun, tapi ia tetap tinggal di atas kasurnya, setengah terpejam, sambil memikirkan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menghujam pikirannya itu. Terngiang ucapannya yang ia ucapkan kepada ibundanya di awal tahun..“Ibu, mohon doakan aku, tahun ini aku akan melipat gandakan penghasilanku melalui usahaku, aku ingin membahagiakan Ibu dengan hasil itu. Mohon doa restunya”.Begitu ucapnya, janjinya, cita-citanya yang ia ungkapkan di hadapan sang Ibunda tercintanya. Tak terasa setitik air mata menetes di ujung mata yang masih terpejam itu. Mengingat selama ini Ucup merasa usahanya belum maksimal, ia lebih banyak bermain-main, melakukan hal-hal yang bukan seharusnya menjadi prioritasnya.
“Usia Ibu tidak muda lagi, kapan kamu mau mulai membalas jasa-jasanya?”suara itu semakin memburunya..
“Wajah Ibu sudah mulai banyak berkerut di sana sini, kapan kamu mau membalas kebaikan-kebaikannya?”suara itu kembali mengejarnya..
“Ibu memang tidak pernah meminta apa-apa, tapi apakah engkau tidak ingin melihatnya tersenyum sambil menangis karena bangga melihat anaknya berhasil?”suara itu makin mengaduk emosinya..
Selamat berbuat lebih banyak, lebih baik, lebih cepat.. Waktu kita ngga banyak sobat“Ini anakku.. aku bangga kepadanya!”