Rabu, 14 September 2011

Yang INSTAN cuma Kopi sama Mie

 
INSTAN adalah satu kata sederhana. Biasanya digandeng dengan kata “kopi” di depannya. Jadilah ia satu sachet minuman yang menggembirakan bagi sebagian besar pencintanya ˆ⌣ˆ Atau juga dengan kata “mie”, jadilah ia senjata ampuh untuk P3K (Pertolongan Pertama Pada Kelaparan).. Biasanya jadi andalan anak kost pas uang mulai menipis hehehe ˆ⌣ˆ

Sobat, kali ini, mari kita menyelami nilai, makna, pembelajaran yang bisa kita ambil dari kata INSTAN yuk ˆ⌣ˆ
Berkaitan dengan kesuksesan, kebanyakan orang berharap mendapatkan sukses layaknya membuat secangkir kopi nikmat. Dalam beberapa waktu saja, berharap semua hasil yang menyenangkan akan datang. Langsung bisa dinikmati.
Pada kenyataannya, apakah ada yang demikian? Tentu ada. Jumlahnya? Bisa dihitung jari. Yang lainnya? Sebagian besar orang mencapai kesuksesan selepas melalui proses yang tidak INSTAN. Ya, mereka benar-benar berjuang melalui proses yang tidak instan itu tadi.
Pernah denger ngga, si itu kena tipu sekian juta karena tergiur investasi yang hasilnya sekian puluh persen sebulan.. atau orang-orang satu kelurahan tertipu dan uangnya dibawa lari karena mereka juga tergiur oleh return investasi yang sekian sekian persen? Biasanya langsung heboh masuk koran tuh. Nah, yang kayak gini, kejadian karena orang-orang tergiur sama hasil yang INSTAN.
Coba jejerin (suruh berbaris) beberapa orang sukses yang kita ketahui. Lalu di tanya satu persatu cerita sukses mereka. Hampir pasti sebagian besar dari mereka akan menceritakan cerita perjuangan layaknya cerita drama, penuh derai air mata, penuh perjuangan. Asli lah, dijamin seru dengerinnya. Pasti yang perjuangannya INSTAN hampir ngga ada.
Sebagian dari kita juga tidak jarang ingin mendapatkan hasil yang BESAR-BESAR. Jadinya, kurang menghargai hasil yang kecil-kecil, padahal dari yang kecil-kecil, akan keluar yang besar-besar. Kembali terbayang kisah seorang teman baik yang memulai usahanya 4 tahun lalu dengan untung 3 juta/bulan, sekarang ini omzetnya sudah lewat 4 Milyar/bulan. Ia adalah salah seorang yang sangat menjunjung tinggi proses.
Satu hal lagi yang perlu kita mengerti. Bahwasannya HASIL yang kita peroleh tidak akan melebihi kemampuan kita. Maka dari itu, sebaiknya kita senantiasa meningkatkan kemampuan, attitude, perbaiki sikap. Singkatnya: memantaskan diri.

Sumber 

Selasa, 13 September 2011

Janji Ucup untuk Ibunda

 
Matahari bersinar dengan lembut, udara pagi masuk ke ruang kamar yang remang-remang membuat udara kamar menjadi sangat menyegarkan. Pagi itu terdengar juga suara burung berkicau tapi tidak bersahutan, mungkin si burung sedang membangunkan teman-teman burung lainnya yang masih terlelap.
Pagi itu, Ucup terbangun dengan sebuah pikiran berkecamuk di kepalanya. “Sudah bulan apa ini?” .. “Bagaimana dengan pencapaianku tahun ini?” .. “Bagaimana dengan target-targetku yang aku sudah ucapkan di awal tahun?” .. “Bagaimana dengan cita-citaku memberikan ‘lebih’ untuk kedua orang tuaku?”

Ucup tidak segera bangun, tapi ia tetap tinggal di atas kasurnya, setengah terpejam, sambil memikirkan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang menghujam pikirannya itu. Terngiang ucapannya yang ia ucapkan kepada ibundanya di awal tahun..
“Ibu, mohon doakan aku, tahun ini aku akan melipat gandakan penghasilanku melalui usahaku, aku ingin membahagiakan Ibu dengan hasil itu. Mohon doa restunya”.
Begitu ucapnya, janjinya, cita-citanya yang ia ungkapkan di hadapan sang Ibunda tercintanya. Tak terasa setitik air mata menetes di ujung mata yang masih terpejam itu. Mengingat selama ini Ucup merasa usahanya belum maksimal, ia lebih banyak bermain-main, melakukan hal-hal yang bukan seharusnya menjadi prioritasnya.
“Usia Ibu tidak muda lagi, kapan kamu mau mulai membalas jasa-jasanya?”
suara itu semakin memburunya..
“Wajah Ibu sudah mulai banyak berkerut di sana sini, kapan kamu mau membalas kebaikan-kebaikannya?”
suara itu kembali mengejarnya..
“Ibu memang tidak pernah meminta apa-apa, tapi apakah engkau tidak ingin melihatnya tersenyum sambil menangis karena bangga melihat anaknya berhasil?”
suara itu makin mengaduk emosinya..
Suara itu semakin membuat air matanya mengalir.. Ucup merasa berdosa, ia sangat mencintai Ibundanya tapi terkadang godaan dalam kesehariannya membuat ia lupa akan cita-citanya membahagiakan sang Ibu. Lingkungannya yang melenakan membuat ia lupa akan janjinya memberikan hanya yang terbaik untuk Ibundanya.
….
Sobat-Motty, bisa jadi kita adalah Ucup. Yang lupa bahwa kita harus membayar pengorbanan Ibu kita membesarkan kita dengan sepenuh cinta. Yang harus membuat bangga Ayah dengan kita menjadi manusia yang berhasil.Yang bisa membuat Ayah dan Ibu berkata

“Ini anakku.. aku bangga kepadanya!”

Selamat berbuat lebih banyak, lebih baik, lebih cepat.. Waktu kita ngga banyak sobat

Sumber